Rabu, 06 Maret 2013

INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) DAERAH


       Seiring dengan tumbuhnya perekonomian Indonesia sebagaimana dijelaskan di atas,  pembangunan manusia di Indonesia juga mengalami perbaikan.  Pada tahun 2002, nilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia adalah. 65,8 dan meningkat menjadi 69,6 pada tahun 2005. Meskipun telah mengalami perbaikan, pencapaian IPM ini masih relatif rendah dibandingkan negara berkembang lainnya. Dalam Human Development Report 2005  yang dikeluarkan oleh UNDP,  posisi IPM Indonesia masih menempati peringkat ke 110 dari 177 negara, berada di bawah posisi Vietnam,  Philiphina, Thailand,  ataupun Malaysia.
      Untuk melihat perbandingan relatif antar daerah di Indonesia, BPS-UNDP-Bappenas (2004) mengklasifikasikan IPM suatu daerah ke dalam empat kategori, yaitu kategori tinggi (nilai IPM di atas 70), menengah tinggi (nilai IPM 66 – 70), menengah rendah (nilai IPM antara 60 – 65) dan rendah (nilai IPM di bawah 60).
      Berdasarkan  klasifikasi tersebut ada 12 propinsi yang berkategori IPM tinggi yaitu DKI Jakarta, Sulawesi Utara, Riau, DI Yogyakarta, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi, Bangka Belitung, dan Sumatera Selatan.  Selanjutnya,  15 propinsi berkategori IPM menengah tinggi yaitu  Jawa Barat,  Bali, Jawa Tengah, Lampung, Maluku, NAD, Banten, Sulawesi Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Gorontalo, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Selatan, Maluku Utara, dan Kalimantan Barat, serta tiga propinsi berkategori IPM menengah rendah yaitu Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Papua.  Tidak ada satu propinsi pun yang berkategori rendah.
Menurut UNDP (1990:1), pembangunan manusia  adalah suatu proses untuk memperbesar pilihan-pilihan bagi manusia (a process of enlarging people’s choices).

PREMIS Pembangunan Manusia
1. Penduduk sebagai pusat perhatian;
2. Di dukung 4 pilar: produktifitas, pemerataan,   kesinambungan, pemberdayaan;
3. Menjadi dasar dalam penentuan tujuan dan  analisis-analisis pilihan untuk mencapainya.

Dari berbagai pilihan yang ingin dicapai, salah satu pilihan terpenting adalah:
·         Manusia dapat berumur panjang dan sehat,
·         Memiliki ilmu pengetahuan dan
·         Mempunyai akses terhadap sumber daya yang dibutuhkan agar dapat hidup secara layak.

Pembangunan manusia melihat secara bersamaan semua isu dalam masyarakat ; pertumbuhan ekonomi, perdagangan, ketenagakerjaan, kebebasan politik ataupun nilai-nilai kultural dari sudut pandang manusia.

TUJUAN PEMBANGUNAN MANUSIA :
Terwujudnya kesejahteraan rakyat, meningkatkan kualitas kehidupan, dan tercapainya kebutuhan dasar.


DALAM KONTEKS INTERNASIONAL;
·         Indonesia memiliki komitmen untuk melaksanakan Tujuan Pembangunan Milenium (Milennium Development Goals) :
·         Menurunkan proporsi penduduk yang tingkat pendapatannya di bawah $ 1 per hari menjadi setengahnya antara 1990-2015
·         Menurunkan proporsi penduduk yang menderita kelaparan menjadi setengahnya antara tahun 1990-2015
·         Memastikan pada tahun 2015 semua anak-anak dimanapun, laki-laki maupun perempuan dapat menyelesaikan pendidikan dasar.
·         Menghilangkan ketimpangan gender di tingkat pendidikan dasar dan lanjutan pada 2005 dan di semua jenjang pendidikan tidak lebih dari tahun 2015.
·         Menurunkan angka kematian balita sebesar dua pertiganya, antara 1990-2015
·         Menurunkan angka kematian ibu sebesar tiga perempatnya antara 1990-2015

Definisi operasional IPM :
Indeks Pembangunan Manusia merupakan indikator komposit yang menggabungkan tiga aspek penting, yaitu peningkatan kualitas fisik (kesehatan), intelektualitas (pendidikan), dan kemampuan ekonominya (daya beli) seluruh komponen masyarakat dalam kurun waktu tertentu.
Komponen IPM :
X1 = angka harapan hidup
X2 = Tingkat pendidikan
X3 = Kemampuan Daya Beli

Penghitungan indeks Pendidikan :
2/3 (indeks melek huruf) + 1/3 (indeks rata-rata lama sekolah)

Angka Harapan Hidup (e0)
Merupakan perkiraan rata-rata lamanya hidup sejak lahir yang mungkin akan dicapai oleh sekelompok penduduk. Angka harapan hidup atau e0 dihitung menggunakan metode tidak langsung (metode Brass, varian Trussel) berdasarkan variabel rata-rata anak lahir hidup dan rata-rata anak  yang masih hidup. Metode Trussel selama ini dianggap cukup moderat untuk menghitung angka harapan hidup penduduk dibandingkan metode lainnya.

Indeks Pendidikan
·         Indeks Pendidikan diukur dengan angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah. Angka Melek Huruf adalah persentase penduduk usia 15 tahun keatas yang bisa membaca dan menulis (baik huruf latin maupun lainnya).
·         Rata-Rata Lama Sekolah adalah  rata-rata jumlah tahun yang telah dihabiskan oleh penduduk usia 15 tahun keatas diseluruh jenjang pendidikan yang pernah dijalani.
·         Angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah dihitung pada penduduk usia 15 tahun keatas dengan pertimbangan mereka dianggap sebagai penduduk dewasa sehingga mampu melakukan pilihan-pilihan dalam hidup secara mandiri.

Indikator Pendidikan Yang Digunakan :
·         Indikator angka melek huruf diperoleh dari variabel kemampuan membaca dan menulis
·         Indikator rata-rata lama sekolah dihitung dengan menggunakan dua variabel secara simultan; yaitu tingkat/kelas yang sedang/pernah dijalani dan jenjang pendidikan tertinggi yang ditamatkan.

Indeks daya Beli Penduduk
·         Kemampuan daya beli  merupakan kemampuan individu untuk memenuhi kebutuhan dasar minimal untuk hidup secara layak.
·         Komponen kemampuan daya beli penduduk diukur dengan indikator rata-rata konsumsi riil yang telah disesuaikan.
·         Batas minimum kemampuan daya beli penduduk sebesar Rp. 300.000,-/kapita/tahun untuk memenuhi kebutuhan dasar paling minimum. Setara dengan dua kali garis kemiskinan yang terendah di perdesaan Sulawesi Selatan dan Papua pada tahun 1990.
·         Batas maksimum kemampuan daya beli penduduk sebesar Rp. 732.720,-/kapita/tahun untuk memenuhi kebutuhan dasar paling minimum. Setara dengan Proyeksi pengeluaran riil/unit/tahun untuk propinsi yang memiliki angka tertinggi (Jakarta Selatan) pada tahun 2018 setelah disesuaikan dengan formula Atkinson
Penghitungan Daya Beli melalui tahap sebagai berikut :
·         Menghitung Pengeluaran Konsumsi Per Kapita (=A)
·         Mendeflasikan Nilai A dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) (=B)
·         Menghitung daya beli per unit (purchasing power parity/unit. Data dasar yang digunakan adalah data harga dan kuantum dari suatu basket komoditi yang ditetapkan (27 komoditi)
·         Membagi nilai B dengan PPP per unit (=C)
·         Menyesuaikan nilai C dengan fomula Atkinson untuk memperoleh nilai marginal utility dari C.

Kode
Provinsi / Kabupaten
Indeks Pembangunan Manusia
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
1
2
3
4
5
6
7
8
9
6400
KALIMANTAN TIMUR
72,2
72,9
73,3
73,77
74,52
75,11
75,56
6401
Pasir
71.00
71,7
72,3
72,7
73,46
73,99
74,66
6402
Kutai Barat
69,1
69,2
70,5
71,93
72,16
72,6
72,9
6403
Kutai
70,4
71,3
71,5
71,53
72,03
72,5
72,89
6404
Kutai Timur
69,1
69,3
69,8
70,46
70,84
71,23
72,05
6405
Berau
70,1
70,7
71,1
72,12
72,75
73,22
73,84
6406
Malinau
70.00
70,3
71,5
71,68
71,78
72,3
72,65
6407
Bulongan
71,2
72,3
72,5
73,33
74,30
74,68
75,11
6408
Nunukan
70,4
71,7
72.00
72,17
72,86
73,48
73,84
6409
Penajam Paser Utara
70,9
71,5
71,7
72.00
72,69
73,11
73,59
6410
Tana Tidung




70,68
71,07
71,42
6471
Kota Balikpapan
75,7
76,1
76,3
76,62
77,31
77,86
78,33
6472
Kota Samarinda
74,5
75,1
75,5
75,62
76,12
76,68
77,05
6473
Kota Tarakan
73,7
73,9
74,9
75,3
75,92
76,37
76,74
6474
Kota Bontang
74,7
74,9
75,1
75,61
76,08
76,52
76,88




Kabupaten/Kota
Variabel Pembentuk Angka IPM 2010
Angka Harapan
Angka Melek
Rata-rata lama
Pengeluaran
Hidup
Huruf
sekolah
Per kapita
(Tahun)
(%)
(Tahun)
disesuaikan (Rp)
Kalimantan Timur
71
97.05
8.07
642,500
Pasir
73.09
96
7.85
629,930
Kutai Barat
70.16
95.97
7.8
628,830
Kutai Kartanegara
67.93
96.87
8.33
637,100
Kutai Timur
68.61
97.28
7.86
624,580
Berau
69.92
97.18
8.13
636,080
Malinau
68.33
92.94
7.76
647,910
Bulungan
72.9
95.56
8.11
635,920
Nunukan
71.54
94.35
7.42
639,440
PPU
71.46
95.55
7.66
630,910
Tana Tidung
72.64
89.05
7.1
618,430
Balikpapan
72.17
98.77
10.08
654,780
Samarinda
71.21
98.01
9.8
649,780
Tarakan
71.74
97.97
9.36
646,930
Bontang
72.42
99.2
10.04
633,430

Ilustrasi Penghitungan  IPM Kalimantan Timur 2012 :
Angka harapan hidup                          :  71
Angka melek huruf                             :  97,05
Rata-rata lama sekolah                        :  8,07
Konsumsi per kapita riil                      :  642.500

Berdasarkan data tersebut, dihitung indeks masing-masing komponen :
Indeks angka harapan hidup                           : (71 – 25) / (85 – 25)              = 0,76
Indeks angka melek huruf                  : (97,05 – 0) / (100 – 0)           = 0,9705
Indeks rata-rata lama sekolah                         : (8,07 – 0) / (15 – 0)               = 0,538
Indeks pendidikan                              : 2/3 (0,9705) + 1/3 (0,538)     = 0,826
Indeks Konsumsi per kapita riil          : (642.500  – 360.000) / (732720  – 360.000) = 0,7579

Akhirnya, angka IPM Jawa Barat dihitung : IPM      = 1/3 (0,76 + 0,826 + 0,7579)
= 0,7813 x 100 = 78,13

Upaya yang mungkin dilakukan untuk “mendongkrak” pencapaian IPM :
Dalam konteks peningkatan derajat kesehatan misalnya, upaya menurunkan tingkat kematian bayi dan balita secara bertahap harus menjadi prioritas. Kegiatan yang cukup relevan diantaranya, adalah:
·         Memudahkan akses fasilitas kesehatan dengan melakukan pembangunan sarana kesehatan secara lebih merata, utamanya di kecamatan yang relatif tertinggal.
·         Meningkatkan Gerakan Sayang Ibu (GSI) dalam rangka meningkatkan status gizi balita, dengan cara pemberian ASI (Air Susu Ibu) eksklusif.
·         Mensosialisasikan program hidup sehat, baik melalui sekolah-sekolah maupun perkumpulan ibu-ibu PKK di desa atau kelurahan misalnya. Atau melalui pemutaran film, seperti yag pernah dilakukan oleh BKKBN dalam rangka menggalakkan program KB.

Di bidang pendidikan:
·         Akselerasi wajar dikdas 9 tahun
·         Penuntasan buta huruf secara berkelanjutan
·         Menurunkan angka rawan drop out murid sekolah
·         Revitalisasi gedung-gedung sekolah, sebagai upaya meningkatkan partisipasi murid secara berkelanjutan.
·         Meningkatkan anggaran pendidikan secara bertahap
·         Efisiensi pengelolaan pendidikan
·         Meningkatkan peran serta orang tua dan masyarakat dalam pendidikan
·         Menggalakan program kejar paket secara berkelanjutan
·         Melakukan sertifikasi bagi lulusan pendidikan luas sekolah (PLS), seperti program kejar Paket A, B dan C dan program lainnya (madrasah salafiyah)

Tidak ada komentar: